Friday, 7 August 2015

CARA MERAIH LAILATUL QADAR

“Inna anzalnaahu fii  lailatul qoder. Wa maa adroo kamaa lailatul qoder. Lailatul qodri khoirum min alfi syaher. Tanazzzalul malaaikatu warruukhu fiiha biidni robbihim mingkulli amer. Salaamun hiyaa khatta matla’il fajer.” (Quran surat al-Qodar ayat 1-5)

Artinya:  Sesungguhnya kami telah menurunkan malam lailatul qadar. Dan  apakah malam lailatul qadar itu? Malam lailatul qadar adalah malam mulia. Malam itu lebih baik dari malam seribu bulan. Pada malam itu para malaikat turun ke bumi dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.

Bulan Ramadhan telah memasuki waktu-waktu sepuluh hari akhir.  Saatnyalah umat islam berusaha meraih kemuliaan lailatul qadar.



Apakah yang disebut dengan lailatul qadar? Arti malam lailatul qadar adalah malam mulia. Mengapa Malam itu sangat mulia? Malam itu dianggap sangat mulia bahkan kemuliannya melebih malam seribu bulan karena pada malam itu telah diturunkannnya alquran oleh malaikat jibril kepada nabi Muhammad Saw untuk menjadi petunjuk umat manusia.  Hal ini berdasarkan keterangan pada firmn Allah surat ad-Duhan (2-8) yang bunyi artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya kami telah menurunkan Alaquran pada malam lailatul qadar.”

Sedangkan Alquran diturunkan pertamakalinya pada malam Bulan Ramadhan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad saw, yaitu surat al-Alaq ayat 1-5. Dengan keterangan ini sangat jelas bahwa lailatul qadar turun pada Bulan Ramadhan. 

Terkait dengan turunnya lailatul qadar ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa lailatul qadar sudah tidak turun lagi seiring dengan tidak diturunkannya lagi Alquran ke bumi. Sebagian ulama yang lain berpandangan bahwa lailatul qadar masih tetap diturunkan setiap tahun, yaitu di dalam bulan Ramadhan, meskipun Alquran sudah tidak diturunkan lagi. Ulama yang berpendapat demikian mendasarkan pada anjuran nabi saw kepada para sahabat untuk mencari lailatul qadar pada malam-malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Kapan  lailatul qadar turun?

Tidak ada yang tahu mengenai waktu kapan turunnya malam  yang sangat mulia itu. Turunnya lailatul qadar ini memang sangat dirahasiakan oleh Allah. Mengapa sangat dirahasiakan? Ini tida lain agar para manusia mau berlomba-lomba untuk meraih kemuliaan itu dengan penuh semangat dan penuh perjuangan. Bila lailatul qadar waktu turunnya sudah diberitahukan tentu para manusia hanya akan beribadah pada malam lailatul qadar saja, selain dari malam itu mereka akan bermalas-malasan.

            Namun Rasulullan memberi sedikit penjelasan kepada kita tentang kapan waktu turunnya lailatul qadar tersebut. Bahwasanya berdasarkan keterangan nabi saw, lailatul qadar diturunkan pada malam-malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, utamanya pada malam—malam bilangan ganjil seperti malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Apakah lailatul qadar turun malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29 tidak ada penjelasan. Bisa saja lailatul qadar tahun ini turun pada malam 21, tahun besok malam 29, tahun besoknya lagi 27 dan seterusnya. ” Carilah malam lailatul qadar pada malam-malam ganjil pada sepuluh terahir di bulan Ramadhan”. Demikian kata Nabi saw.

Lailatul qadar memang malam yang sangat istimewa. Orang yang berhasil bertemu dengan lailatul qadar adalah orang yang akan mendapat keberuntungan besar baik di dunia maupun di akherat. Mereka yang bisa bertemu dengan lailatul qadar hidupnya akan selalu dekat dengan para malaikat. Para malaikat ini akan selalu memberi bimbingan kepadanya.

Malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Dengan demikian bila orang  mendapat lailatul qadar,  maka setelah Ramadhan lewat,  ia akan tampak selalu taat beribadah kepada_Nya.  Baik itu ibadah yang wajib maupun ibadah yang sunah. Ibadah-ibadah yang wajib seperti misal solat fardu lima waktu. Mereka akan selalu berusaha menjaga solat fardu lima waktunya dengan tepat waktu plus berjamaah. Ibadah-ibadah sunah pun demikian tidak mereka tinggalkan, sepert menjalankan solat sunah rowatib qobliyah (sebelum solat fardhu dilaksanakan) dan solat bakdiyah (sesudah solat fardu dilaksanakan), solat malam, solat Duha dan seterusnya. Kemudian mereka juga senang membaca dan menghayati isi Al-quran.

Kemudian orang yang kebetulan melakukan amal soleh atau ibadah di malam lailatul qadar pahalanya akan disetarakan dengan pahala ibadah yang dilakukan selama seribu bulan. Seribu bulan jika dijadikan ke tahun kurang lebih sekitar 83 tahun. Ini adalah anugerah Allah kepada umat nabi Muhammad yang  jatah  umur hidupnya pendek-pendek. 

   Demikianlah rahmat dari lailatul qadar. Maka wajar sekali apabila Rasulullah saw sangat menekankan kepada umatnya untuk selalu mencari lailatul qadar pada bulan Ramadhan. Sebab dengan rahmat dan karunianya itu ia akan dapat mengubah nasib hidup umat manusia di dunia maupun di akherat. 

Bagaimana memperoleh lailatul qadar?

Untuk mendapatkan lailatul qadar kita harus menggiatkan dan mengencangkan ibadah kita di bulan ramadhan, khususnya pada sepuluh hari terahir di bulan Ramadhan. Pada setiap sepuluh hari terahir di bulan Ramadhan, Rasulullah untuk menyambut datangnya lailatul qadar, selalu melakukan iktikaf di Masjid (Musola). Iktikaf artinya adalah berdiam diri di masjid atau musola untuk melakukan ibadah kepada Allah dengan niat untuk bertaqorrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Ibadah-ibadah apa saja yang dapat di lakukan ketika berikttikaf? Ibadah yang bisa dilakukan ketika  beriktikaf adalah solat lail, membaca alquran, membaca buku pelajaran agama, mendengarkan ceramah agama, memperbanyak dzikir (dengan membaca lafad tasbih, tahmid, takbir, istighfar, banyak berdoa) dan lain sebagainya.

Rasulullah yang sudah dijamin Allah masuk surga, dijaga dari segala dosa, ketika bulan Ramadhan saja mau mencari lailatul qadar, namun kita yang manusia biasa yang banyak melakukan dosa, masih bermalas-malasan untuk beribadah, masih sedikit tabungan pahala aheratnya,  tidak mau menyambut  malam yang sangat mulia itu.  Hal ini terlihat dari kebanyakan umat Islam yang mana biasanya pada saat sepuluh hari terahir di bulan Ramadhan mereka tidak seperti pada awal Ramadhan yang semangat beribadah, sebaliknya  mereka bermalas-malasan menjalankan ibadah. Jamaah solat taraweh di masjid dan musola di akhir-kahir bulan Ramadhan makin maju sofnya (berkurang), jamaah tadarus Alquran  makin berkurang, sebaliknya  ada peningkatan  jamaah di pasar-pasar atau mol-mol dari para ibu-ibu, remaja-remaja, pemuda-pemudi untuk berbelanja dalam rangka mempersiapkan untuk lebaran nanti. Padahal lailatul qadar diturunkan pada hari-hari terahir bulan Ramadhan. Waallahu a’alam bishowab.* 

No comments:

Post a Comment