Wednesday, 12 August 2015

INILAH KEBIASAAN TAK BAIK KETIKA MENSOLATI ORANG MATI



Akhirnya Pak Tarya mendapat uang yang ia butuhkan. Uang itu akan ia pakai untuk insentif atau imbalan bagi mereka yang menyolatkan jenazah isterinya. Meskipun uang yang ia butuhkan untuk memberi insentif kepada mereka yang menyolatkan jenazah isterinya tidak begitu besar, karena kemiskinannya, ia harus mencarinya dengan berutang-utang. Mau tidak mau dirinya harus melakukannya sebab itu sudah menjadi kebiasaan. Sebab bisa diomong yang tidak-tidak bila tidak mengikuti kebiasaan yang ada di lingkungan masyarakatnya itu.

 Apa yang dirasakan oleh Pak Tarya (sebuah kisah rekaan) pasti juga dirasakan oleh yang lain terbebani oleh suatu kebiasaan yang berlangsung di masyarakat manakala menyolati jenazah.

Mensolati jenazah adalah sebuah ibadah yang memiliki dua dimensi. Dimensi vertikal (ke Allah) maupun dimensi sosial. Dimensi vertikal mendatangkan pahala yang sangat besar. Kemudian dimensi sosial bisa mengakrabkan atau menguatkan silaturahim dengan pihak yang ditinggalkan.  Namun akhir-akhir ini pelaksanaan solat jenazah seringkali diwarnai oleh suatu kebiasaan yang jika tidak dibendung atau dihilangkan bisa menjadi sebuah kebiasaan yang bisa memberatkan bagi pihak yang ditinggalkan jika mereka yang ditinggalkan adalah keluarga yang kurang mampu. Bukankah keadaan ekonomi masyarakat Islam di negara kita tidak sama. Ada yang miskin dan ada yang kaya? Bahkan antara yang kaya dengan yang miskin di tengah masayarakat kita lebih banyak yang miskin?

Olehkarenanya  keadaan kebiasaan ini perlu menjadi perhatian semua pihak, terutama dari tokoh agama yang ada di masyarakat, untuk menyadarkan, mengingatkan agar jangan membiasakan kebiasaan memberikan amplop kepada para pesolat jenazah karena jika ini dibiarkan akan menjadi suatu keharusan di tengah masayarakat.  Para tokoh agama harus mau mengingatkan kebiasaan yang kurang baik ini agar  mereka yang terkena musibah yang kebetulan orang mampu tidak membeagi-bagikan amplop uang kepada orang-orang yang mensolati jenazah.

Harus ada keteladanan
Selain dengan menyadarkan dan mengingatkan kepada pihak keluarga yang anggota kelurganya disolatkan juga harus ada keteladanan dari semua pihak, baik dari tokoh  amupun masyarakat, utama masyarakat yang tergolong mampu. Sebab tanpa ada keteladanan yang baik dari mereka rasanya sangat sulit kebiasaan memberikan amplop uang kepada para pesolat jenazah ini bisa dihilangkan.

Memang bagi mereka (masyarakat) yang tergolong mampu niatnya memberi amplop itu adalah untuk bersedekah. Tak ada larangan untuk soal bersedekah karena sedekah merupakan salah satu amal soleh yang sangat dianjurkan oleh agama Islam.  Hanya saja penyalurannya yang perlu diperbaiki atau dibenarkan karena  kegiatan sodakoh yang disalurkan pas saat ada orang mati dan diberikan kepada mereka yang melakukan solat jenazah itu bisa menjadi kebiasaan yang pada akhirnya akan diumumkan oleh masyarakat. Dan jika sudah diumumkan oleh masyarakat maka masyarakat merasa berkewajiban untuk melaksanakannya meskipun tidak mampu.


Jika memang benar karena ingin bersedakah, maka supaya biar tidak menjadi sebuah kebiasaan maka sedekahnya bisa dilakukan jauh-jauh hari setelahnya. Misalnya satu minggu atau satu bulan sesudahnya kematian, dimana keluarga korban yangg ditinggalkan bisa bersedekah dengan disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan sperti fakir miskin, anak yatim, dan lain sebagainya.**

No comments:

Post a Comment